
“Sekarang saya paham… ternyata wajar kalau anak-anak bingung memilih jurusan.”
Pernyataan yang hadir di tengah sesi Workshop My Career Compass. Bukan sebagai evaluasi formal, melainkan refleksi jujur setelah seorang konselor pendidikan mencoba menyelami framework IKIGAI.
Peserta di ruangan ini berhenti sejenak dari peran sebagai fasilitator, kali ini nggak memberi arahan, nggak mengoreksi. Hanya menjawab pertanyaan tentang diri sendiri. Apa yang dikuasai, apa yang dicintai, apa yang realistis dijadikan penghidupan, dan di mana diri ini bisa berkontribusi.
Di titik itu, IKIGAI nggak terasa rumit secara konsep, hanya saja prosesnya terasa berat. Bukan karena pertanyaannya sulit, tetapi karena prosesnya meminta kejujuran dan pengalaman hidup. Dari sana, kesadaran muncul: jika refleksi ini saja menantang bagi orang dewasa, maka kebingungan peserta didik bukanlah kegagalan, melainkan proses yang belum sepenuhnya difasilitasi.
Tanpa tools, IKIGAI sering berhenti di permukaan. Siswa menjawab normatif, memilih aman, atau mengulang suara yang paling dominan di sekitarnya. Bukan karena nggak mau mendalami, tetapi karena belum punya bahasa untuk memahami dirinya sendiri.
Tapi Kenapa Banyak Peserta Didik masih Bingung Memilih Jurusan?
Kebingungan memilih jurusan lahir dari pertemuan faktor internal dan eksternal.
Secara internal, banyak peserta didik tumbuh dalam sistem pendidikan yang lebih menekankan hasil akhir daripada proses belajar. Mereka tahu nilai akademiknya, tetapi belum tentu mengenali pola kekuatan, ketertarikan, dan cara belajarnya.
Secara eksternal, tekanan datang dari berbagai arah. Ekspektasi keluarga, narasi sukses di media sosial, jurusan yang dianggap “aman”, hingga dunia kerja yang berubah cepat. Menurut OECD, kebingungan remaja dalam menentukan pilihan pendidikan bukan terutama karena kurangnya informasi. Justru, mereka sering kewalahan karena harus menghadapi terlalu banyak tuntutan.
Dalam kondisi ini, memilih jurusan sering menjadi keputusan kompromi. Di sinilah IKIGAI sebenarnya relevan, namun membutuhkan jembatan agar mudah diakses oleh peserta didik.
Mengkolaborasikan IKIGAI dengan My Career Compass

IKIGAI berasal dari filosofi hidup Jepang yang menggambarkan titik temu antara empat area penting dalam hidup. Bukan sekadar kerangka karier, tetapi cara memahami keutuhan diri.
My Career Compass hadir sebagai alat bantu refleksi sehingga filosofi ini dapat dijalani secara konkret, seperti yang dipraktikkan dalam Workshop My Career Compass.
1. What Are You Good At?

Eksplorasi dimulai dari area skill, bukan untuk mencari siapa yang paling unggul, melainkan mengenali pola kemampuan yang konsisten muncul.
Coaches bisa mengajak siswa memilih 15-20 kartu skill dari My Career Compass. Kalau peserta mengalami kebingungan, prosesnya bisa dilanjutkan dengan mengajukan beberapa pertanyaan pemantik:
- Apa yang membuat saya percaya diri?
- Hal apa yang sering diminta orang lain untuk saya ajarkan?
- Keterampilan apa yang saya pelajari secara konsisten dan terus berkemban selama bertahun-tahun?
2. What You Love?

Di tahap ini, eksplorasi mulai bergeser ke area nilai (value). Refleksi diarahkan pada hal-hal yang terasa mengusik saat dilanggar, momen ketika diri merasa selaras, serta peran-peran yang memberi rasa bermakna.
Coaches bisa mengajak peserta didik kembali memilih sekitar 15–20 kartu nilai yang paling bermakna. Untuk membuka percakapan, beberapa kartu pertanyaan reflektif ini mampu menjadi pemantik diskusi:
- Apa definisi hidup yang aman/nyaman bagi saya?
- Kebahagiaan seperti apa yang ingin saya capai?
- Prinsip apa yang paling penting dalam perjalanan karir saya?
3. What You Can Be Paid For?
Bagian ini membantu peserta didik menyaring pilihannya dengan sadar. Dari area good at, mereka diajak mempersempit pilihan menjadi 10 kartu skill. Pembatasan ini bukan untuk membatasi potensi, tapi melatih keberanian dalam menentukan prioritas. Refleksi diarahkan pada pertanyaan: kontribusi apa yang realistis untuk dikembangkan secara profesional, dan skill mana yang benar-benar siap dilatih dalam jangka panjang.
Di tahap ini, kebingungan sering muncul, dan itu wajar. Untuk membantu memberi gambaran yang lebih kontekstual, Coaches dapat menghadirkan data dari World Economic Forum sebagai cermin realita kebutuhan pasar kerja saat ini, tanpa menghilangkan ruang refleksi personal peserta didik.
4. What the World Needs?

Eksplorasi terakhir mengajak peserta didik melihat keluar diri tanpa kehilangan identitas. Mereka memilih 10 kartu skill atau value yang merepresentasikan isu, peran, atau dampak yang terasa dekat. Dunia tidak dipahami sebagai sesuatu yang terlalu besar, tetapi sebagai lingkungan tempat kontribusi kecil tetap bermakna. Refleksi diarahkan pada peran apa yang ingin diambil dan perubahan apa yang ingin diwujudkan.
Pertanyaan pematik dari My Career Compass ini mampu membuka ruang refleksi:
- Dalam tiga tahun terakhir, pengembangan diri apa yang paling signifikan untuk kehidupan personal dan profesional saya?
- Apa yang ingin saya kontribusikan pada lingkungan skeitar saya?
Sudah siap membersamai proses keutuhan bareng IKIGAI dan My Career Compass

Di titik ini, IKIGAI nggak lagi terasa sebagai tuntutan menemukan satu jawaban hidup. Ia menjadi proses menyatukan potongan-potongan diri secara utuh. My Career Compass membantu memastikan proses itu dapat dijalani dengan pelan, reflektif, dan manusiawi oleh Coachee Anda.
Kalau mau tahu informasi tentang tools, jadwal workshop atau webinar, terkoneksi bersama tim kami ya!

