“Sudah berkali-kali pindah peran dalam pekerjaan… tapi masih belum pas.”
Coaches, pernah menjumpai Coachee yang punya isu serupa?
Di ruang coaching, kalimat ini mungkin akan sering terdengar ketika Coachee sedang dalam masa transisi karirnya.
Dalam masa mencari identitas diri, Coachee seringkali sudah melakukan banyak usaha, seperti berpindah beberapa peran, mencoba berbagai bidang, bahkan berani mengambil keputusan besar dalam kariernya
Tapi dibalik itu, ada dua hal yang hampir selalu muncul bersamaan: burnout dan kebingungan arah.
Fenomena yang terjadi ini sering dikaitkan dengan Squiggly Career. Sebuah konsep yang menggambarkan bahwa perjalanan karier tidak selalu lurus, melainkan bisa berpindah, berbelok, bahkan berubah arah berkali-kali.
Squiggly Career: Membuka Peluang, Tapi Juga Bisa Melelahkan
Coaches, menariknya, konsep squiggly career ini sebenarnya bukan sesuatu yang negatif.
Dalam Harvard Business Review, dijelaskan bahwa dunia kerja saat ini memang tidak lagi berjalan secara linear. Banyak individu berkembang justru melalui perpindahan peran, eksplorasi lintas bidang, dan pengalaman yang beragam. Artinya, berpindah bukan berarti gagal. Justru bisa menjadi cara untuk bertumbuh.
Hal ini juga diperkuat oleh Helen Tupper dan Sarah Ellis dalam The Squiggly Career. Mereka menjelaskan bahwa jalur karier yang tidak lurus memberi ruang bagi seseorang untuk mengenali kekuatan dirinya secara lebih luas.
Tapi disisi lain, ada hal yang sering terlewat bahwa ketika eksplorasi tanpa kejelasan akan berubah menjadi kelelahan.
Ketika seseorang terus berpindah tanpa benar-benar memahami:
- apa yang ia cari
- apa yang menjadi kekuatannya
- dan apa yang penting baginya
Maka dalam setiap transisi akan kesulitan menemukan makna karena tidak memiliki batasan dalam prosesnya.
Dari Terus Mencari, Menjadi Lebih Memahami
Ketika Coachee berada di persimpangan karier dan mengalami fase squiggly career, Coaches bisa mengajaknya untuk kembali ke dalam diri melalui beberapa langkah ini:
1. Pause
Seringkali perjalanan yang panjang dipenuhi oleh usaha, tapi minim ruang untuk benar-benar mendengar diri sendiri. Di sini, Coaches bisa mulai dengan mengajak Coachee menyadari dan menamai apa yang sedang ia rasakan.
2. Menyelami Values
Ajak Coachee kembali ke pertanyaan dasar: apa yang sebenarnya penting bagiku?
Coaches bisa meminta Coachee memilih 5 nilai dalam kartu My Career Compass.
3. Menyelami Skills
Coaches bisa membantu Coachee melihat kembali kekuatan yang sudah ia miliki.
Apa saja skill yang terus muncul di berbagai peran yang pernah dijalani?
4. Elaborasi Perjalanan
Ajak Coachee menuliskan seluruh pengalaman perannya, lalu refleksikan: apakah setiap peran tersebut sudah mengakomodasi values dan skills yang dimiliki?
Dari sana, Coachee bisa mulai mengurutkan mana yang paling selaras (1–3 teratas).
Saatnya Punya Kompas, Bukan Sekadar Berjalan
Coaches, proses di atas bisa Anda temukan dalam My Career Compass Workshop.
Squiggly career adalah hal yang wajar, terutama ketika seseorang sedang bertumbuh.
Namun di titik tertentu, mungkin ini bukan lagi soal terus mencari… melainkan mulai menemukan kompas.
Melalui My Career Compass Workshop, Coaches akan diajak untuk:
- Mengenali skill yang selama ini muncul dalam perjalanan
- Memahami value yang menjadi dasar setiap keputusan
- Menemukan kemungkinan career path yang lebih selaras
- Menjalani transisi karier dengan lebih tenang dan terarah
Karena pada akhirnya, yang membuat perjalanan terasa melelahkan bukanlah jalannya, melainkan ketika kita berjalan tanpa benar-benar tahu kita sedang menuju ke mana. 🤍

