Coaches, pernah nggak ketemu coachee yang merasa dirinya biasa-biasa aja, padahal orang lain sering mengandalkannya untuk menyelesaikan berbagai hal?
Ada yang selalu dimintai bantuan sama rekan kerja, tapi nggak pernah merasa dirinya ahli. Ada juga yang bisa menyelesaikan tugas dengan baik, tapi menganggap itu hal biasa. Bahkan, ada yang lebih gampang menyebutkan kekurangannya daripada mengenali apa yang sebenarnya ia kuasai.
Nah, situasi seperti ini bisa jadi awal yang menarik untuk mengajak coachee mengenali kekuatan dirinya.
Sebab, mengenali kelebihan bukan cuma soal bikin seseorang lebih percaya diri. Dari sini, coachee juga bisa mulai memahami kontribusi yang bisa ia berikan, keterampilan yang ingin dikembangkan, sampai kemungkinan arah karier yang sebelumnya belum terpikirkan.
Lalu, yang banyak dipertanyakan, gimana caranya Coach mendampingi coachee mengenali kekuatan dirinya tanpa buru-buru memberikan penilaian?
1. Mulai dari hal yang membuat Coachee percaya diri
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Salah satu pertanyaan yang bisa digunakan adalah,
“Apa yang membuat saya percaya diri?”
Pertanyaan ini terlihat sederhana, tetapi jawabannya bisa membuka banyak hal.
Bagi seorang coachee, rasa percaya diri mungkin muncul ketika ia berhasil menyelesaikan masalah yang rumit. Bagi yang lain, rasa itu muncul ketika mampu membantu orang lain memahami sesuatu atau ketika dipercaya memimpin sebuah proyek.
Sebagai Coach, kita bisa mengajak coachee melihat pengalaman yang mendasari rasa percaya dirinya.
Kapan ia merasa mampu? Apa yang sedang ia lakukan saat itu? Keterampilan apa yang ia gunakan? Apakah pengalaman serupa pernah terjadi di situasi lain?
Dari percakapan tersebut, coachee dapat mulai mengenali pola tentang hal-hal yang menjadi kekuatannya.
Nggak perlu buru-buru menyimpulkan bahwa ia memiliki kemampuan tertentu. Berikan ruang agar coachee sendiri yang menemukan hubungan antara pengalaman, tindakan, dan kemampuannya.
2. Perhatikan hal yang sering diminta orang lain untuk ia ajarkan
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Pernahkah Anda ketemu sama Coachee yang nggak menyadari bahwa beberapa hal yang terasa mudah baginya justru sulit bagi orang lain?
Misalnya, seorang karyawan sering dimintai bantuan untuk menjelaskan informasi yang rumit. Ia menganggap hal tersebut biasa saja karena sudah terbiasa melakukannya.
Padahal, kemampuan menyederhanakan informasi bisa menjadi keterampilan yang berharga dalam berbagai peran profesional.
Pertanyaan “Hal apa yang sering diminta orang lain untuk saya ajarkan?” dapat membantu coachee melihat dirinya dari perspektif yang berbeda.
Sebagai seorang Coach, Anda bisa mengajaknya mengingat situasi ketika orang lain meminta bantuan, pengetahuan apa yang biasanya dibagikan, dan bagaimana ia membantu orang lain memahami sesuatu.
Namun, penting untuk diingat bahwa sering dimintai bantuan nggak otomatis berarti seseorang ahli dalam hal tersebut ya. Pengalaman ini bisa menjadi petunjuk awal yang perlu dieksplorasi lebih lanjut, bukan kesimpulan akhir.
3. Kenali keterampilan yang terus berkembang
Kekuatan diri tidak selalu muncul sebagai kemampuan yang langsung dikuasai sejak awal. Ada keterampilan yang terbentuk melalui latihan, pengalaman, dan kemauan untuk terus belajar.
Anda bisa mengeksplorasi pertanyaan ini:
“Keterampilan apa yang saya pelajari secara konsisten dan terus berkembang selama bertahun-tahun?”
Pertanyaan tersebut mengajak coachee melihat perjalanan pengembangan dirinya, bukan hanya pencapaian yang terlihat saat ini.
Mungkin ia pernah memulai dari tugas sederhana, kemudian dipercaya menangani tanggung jawab yang lebih besar. Mungkin ia juga pernah menghadapi kesulitan, mencoba pendekatan berbeda, dan akhirnya menemukan cara kerja yang lebih efektif.
Coach dapat menggali apa yang membuat coachee bertahan mempelajari keterampilan tersebut. Apa yang membuatnya tertarik? Bagaimana ia mengetahui bahwa dirinya berkembang? Dalam situasi apa keterampilan itu paling berguna?
Jawabannya dapat membantu coachee mengenali kemampuan sekaligus hal yang ingin terus dikembangkan.
4. Gali pengalaman yang membuat coachee merasa mampu
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Terkadang, coachee sulit menyebutkan kelebihannya karena ia hanya berfokus pada apa yang belum berhasil dicapai.
Dalam situasi ini, mengajak coachee kembali melihat pengalaman masa lalu bisa menjadi awal yang menarik.
Coach dapat meminta coachee mengingat momen ketika ia berhasil melewati tantangan, menyelesaikan pekerjaan yang sulit, atau memberikan kontribusi yang berarti bagi timnya.
Setelah itu, eksplorasi dapat dilanjutkan dengan pertanyaan seperti: Apa yang kamu lakukan hingga situasi itu bisa teratasi? Sumber daya apa yang kamu gunakan? Bagian mana yang paling kamu banggakan dari pengalaman tersebut?
Tujuannya bukan sekadar mengumpulkan daftar pencapaian. Lebih dari itu, coachee diajak mengenali tindakan dan kemampuan yang berperan dalam pengalaman tersebut.
Pola yang ditemukan mungkin bisa digunakan kembali ketika ia menghadapi tantangan karier berikutnya.
5. Hubungkan kekuatan dengan arah karier
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Mengenali kekuatan diri akan lebih bermakna ketika coachee dapat mengeksplorasi bagaimana kekuatan tersebut ingin digunakan.
Seseorang mungkin menyadari bahwa ia memiliki kemampuan analitis yang baik. Namun, ia juga perlu memahami apakah ia menikmati aktivitas tersebut, dalam konteks seperti apa ia ingin menggunakannya, dan apakah kemampuan itu mendukung arah karier yang diinginkan.
Coach bisa mengajak coachee merefleksikan pertanyaan,
“Apa yang ingin saya dalami dalam karier saya?”
Pertanyaan ini membuka ruang untuk menghubungkan kemampuan saat ini dengan minat dan tujuan pengembangan berikutnya.
Bisa jadi coachee ingin memperdalam keterampilan yang sudah dimiliki. Bisa juga ia ingin menggunakan kekuatannya dalam peran yang berbeda.
Tidak semua kekuatan harus menjadi pusat karier seseorang. Ada kalanya keterampilan tertentu lebih cocok menjadi pendukung, sementara hal lain justru memberi energi dan makna yang lebih besar.
Bagaimana Jika Coachee Tetap Sulit Melihat Kelebihannya?
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Sebagai Coach, kita mungkin tergoda untuk segera menyebutkan kelebihan yang kita lihat dari coachee. Niatnya tentu baik, tetapi ada kemungkinan coachee belum benar-benar memahami atau menerima pengamatan tersebut.
Alih-alih langsung memberikan label, kita bisa mengembalikan perhatian pada pengalaman konkret yang sudah diceritakan.
Misalnya, ketika coachee mengatakan bahwa ia berhasil membantu tim menyelesaikan masalah, Coach dapat mengeksplorasi bagaimana ia melakukannya dan apa yang membuat pendekatannya efektif.
Dengan begitu, coachee memiliki kesempatan untuk membangun pemahamannya sendiri berdasarkan pengalaman, bukan sekadar menerima penilaian dari orang lain.
Kita juga perlu menghindari asumsi bahwa setiap keterampilan yang dimiliki seseorang pasti menjadi sumber energi baginya. Seseorang bisa sangat mampu melakukan sesuatu, tetapi merasa lelah ketika terus-menerus melakukannya.
Karena itu, mengenali kekuatan perlu berjalan beriringan dengan eksplorasi tentang minat, kebutuhan, dan lingkungan kerja yang mendukung.
Dari Mengenali Kekuatan Menuju Pilihan Karier
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Membantu coachee mengenali kelebihan dirinya bukan tentang menemukan satu label yang mendefinisikan siapa dirinya. Proses ini lebih menyerupai perjalanan untuk memahami pengalaman, melihat pola, dan menyadari berbagai kemungkinan yang dimiliki.
Kartu pertanyaan My Career Compass dapat menjadi alat bantu dalam proses tersebut. Pertanyaan seperti “Apa yang membuat saya percaya diri?”, “Dalam hal apa saya sering dianggap sebagai ahli oleh orang-orang di sekitar saya?”, dan “Hal apa yang sering diminta orang lain untuk saya ajarkan?” bisa membuka percakapan tentang kekuatan dan potensi diri.
Tentu saja, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak harus digunakan sekaligus. Pilih pertanyaan yang sesuai dengan kebutuhan coachee dan ikuti arah eksplorasi yang muncul selama sesi.
Pada akhirnya, ketika coachee mulai melihat kemampuan dirinya dengan lebih jelas, ia memiliki bahan refleksi untuk mempertimbangkan pilihan karier dengan lebih sadar.
Bukan karena Coach sudah memberi tahu apa yang menjadi kelebihannya, tetapi karena coachee mulai menemukan makna dari pengalaman dan kemampuannya sendiri.

