Pernahkah Anda mendampingi coachee yang datang dengan cerita tentang kariernya, tetapi sebenarnya belum tahu apa yang ingin coachee lakukan selanjutnya?
Mungkin coachee sedang mempertimbangkan untuk resign, tetapi belum tahu apakah pindah pekerjaan adalah keputusan yang tepat. Mungkin coachee merasa sudah cukup lama berada di posisi yang sama dan ingin berkembang, tetapi belum bisa menjelaskan perkembangan seperti apa yang sebenarnya diinginkan. Atau mungkin coachee justru memiliki terlalu banyak pilihan, sehingga semakin banyak pilihan yang tersedia, semakin sulit bagi coachee menentukan arah.
Situasi seperti ini cukup umum dalam percakapan mengenai karier. Ketika seseorang mengatakan, “Saya bingung dengan karier saya,” yang dibutuhkan belum tentu sebuah jawaban tentang pekerjaan apa yang harus dipilih. Bisa jadi, coachee membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak dan memahami dirinya sendiri dengan lebih utuh.
Di sinilah career coaching memiliki peran yang penting.

Sumber: Canva
Career coaching bukan sekadar proses membantu seseorang menentukan pekerjaan, berpindah karier, atau menetapkan target profesional. Lebih dari itu, career coaching dapat menjadi ruang bagi coachee untuk mengeksplorasi apa yang penting bagi dirinya, apa yang coachee miliki, apa yang coachee butuhkan, dan seperti apa arah yang ingin coachee bangun dalam perjalanan kariernya.
Sebelum Anda membawa percakapan tersebut ke dalam sesi coaching, ada beberapa hal yang mungkin perlu Anda perhatikan.
1. Career Coaching Bukan Sekadar Membantu Coachee Memilih Pekerjaan

Sumber Canva
Ketika membicarakan karier, kita sering kali langsung mengarah pada hal-hal yang terlihat: pekerjaan, jabatan, industri, perusahaan, atau bahkan gaji.
Namun, pernahkah Anda menemukan coachee yang sebenarnya memiliki pekerjaan yang “baik” di atas kertas, tetapi tetap merasa tidak puas?
Coachee memiliki posisi yang cukup baik, lingkungan kerja yang mungkin tidak bermasalah, bahkan memiliki kesempatan untuk berkembang. Tetapi ada sesuatu yang terasa kurang. Ketika ditanya apa yang kurang, coachee pun belum tentu bisa menjelaskannya.
Situasi seperti ini menunjukkan bahwa karier tidak hanya berkaitan dengan apa yang seseorang kerjakan, tetapi juga mengapa coachee memilih untuk mengerjakannya dan apa yang ingin coachee dapatkan maupun berikan melalui pekerjaan tersebut.
Karena itu, dalam career coaching, Anda dapat membantu coachee melihat karier dari perspektif yang lebih luas. Bukan hanya, “Pekerjaan apa yang cocok untuk saya?”, tetapi juga, “Apa yang membuat sebuah pekerjaan terasa worthwhile bagi saya?”
Eksplorasi tersebut dapat membawa percakapan pada nilai yang ingin dihidupi, keterampilan yang ingin digunakan, kebutuhan yang ingin dipenuhi, hingga kontribusi yang ingin diberikan melalui pekerjaan.
Dan semakin dalam percakapan tersebut, semakin terlihat bahwa menentukan arah karier sebenarnya juga merupakan proses memahami diri sendiri.
2. Tidak Semua Coachee Datang dengan Career Goal yang Jelas

Sumber: Canva
Setelah menyadari bahwa karier memiliki banyak dimensi, Anda mungkin juga menemukan tantangan berikutnya: tidak semua coachee datang dengan tujuan yang sudah jelas.
Ada coachee yang datang dengan kalimat, “Saya ingin resign.”
Tetapi setelah percakapan berjalan, ternyata coachee tidak benar-benar yakin apakah resign adalah yang coachee butuhkan.
Ada pula yang mengatakan, “Saya ingin berkembang.”
Namun ketika Anda bertanya, “Berkembang seperti apa?”, jawabannya masih samar.
Dalam kondisi seperti ini, mungkin akan terlalu cepat jika career coaching langsung diarahkan pada penetapan career goal. Sebelum menentukan ke mana coachee ingin pergi, coachee mungkin perlu memahami terlebih dahulu di mana dirinya berada dan apa yang sebenarnya sedang coachee cari.
Sebagai coach, Anda tidak harus buru-buru memberikan arah. Justru, Anda dapat membantu coachee menjadikan kebingungan tersebut sebagai titik awal eksplorasi.
Karena terkadang, “Saya tidak tahu” bukanlah akhir dari percakapan. Itu justru awal dari pertanyaan yang lebih dalam.
3. Career Clarity Tidak Berarti Harus Memiliki Semua Jawaban

Sumber: Canva
Hal ini juga penting ketika Anda mendampingi coachee yang merasa tertinggal karena belum memiliki gambaran karier yang jelas.
Career clarity sering kali dianggap sebagai kondisi ketika seseorang sudah mengetahui dengan pasti pekerjaan apa yang ingin dilakukan, posisi apa yang ingin dicapai, atau perusahaan mana yang ingin dituju.
Padahal, kejelasan karier tidak selalu berarti mengetahui seluruh jawaban.
Coachee bisa saja belum mengetahui akan menjadi apa lima tahun ke depan, tetapi sudah memahami bahwa coachee membutuhkan pekerjaan yang memberikan ruang untuk belajar. Coachee mungkin tahu bahwa menggunakan kreativitas adalah sesuatu yang penting baginya. Coachee mungkin menyadari bahwa coachee ingin bekerja dengan orang lain, memiliki fleksibilitas, atau memberikan kontribusi yang terasa bermakna.
Kesadaran-kesadaran tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat menjadi kompas ketika coachee harus mengambil keputusan.
Jadi, ketika Anda membantu coachee menemukan career clarity, Anda tidak selalu perlu membawanya pada satu tujuan akhir. Anda dapat membantu coachee menemukan beberapa hal yang dapat menjadi dasar untuk menentukan langkah berikutnya.
4. Pertanyaan Career Coaching Perlu Membuka Ruang Eksplorasi

Sumber: Canva
Di titik ini, Anda mungkin mulai menyadari bahwa kualitas pertanyaan akan sangat menentukan arah percakapan.
Pertanyaan seperti, “Apa career goal Anda?” tentu penting. Namun, jika coachee belum mengetahui apa yang diinginkan, pertanyaan tersebut mungkin justru terasa terlalu besar.
Anda dapat membawa percakapan melalui pertanyaan yang lebih dekat dengan pengalaman dan refleksi coachee.
Apa yang membuat pekerjaan terasa bermakna bagi Anda?
Apa yang ingin Anda dapatkan dari pekerjaan Anda?
Apa yang ingin Anda berikan melalui pekerjaan Anda?
Keterampilan apa yang selama ini paling ingin Anda gunakan?
Keterampilan apa yang ingin Anda kembangkan?
Apa yang penting bagi Anda ketika mempertimbangkan pilihan karier?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dirancang untuk memberikan jawaban instan. Sebaliknya, pertanyaan tersebut memberikan ruang agar coachee dapat berhenti, melihat kembali pengalamannya, dan mulai menemukan pola dari apa yang selama ini coachee jalani.
Dengan begitu, career coaching tidak hanya menjadi percakapan tentang “apa yang harus saya lakukan berikutnya?”, tetapi juga tentang “apa yang sebenarnya penting bagi saya?”
5. Career Exploration Tidak Harus Dilakukan dengan Percakapan Saja

Sumber: Canva
Meski percakapan adalah bagian penting dari coaching, Anda mungkin pernah mengalami situasi ketika pertanyaan yang sudah Anda ajukan belum membawa coachee pada insight yang diharapkan.
Coachee mungkin terus menjawab, “Saya nggak tahu.”
Atau jawabannya terasa terlalu umum dan sulit dikembangkan.
Dalam kondisi seperti ini, menghadirkan stimulus visual dapat menjadi cara lain untuk membuka percakapan. Ketika sesuatu yang abstrak dapat dilihat, dipilih, dan dibandingkan, coachee mungkin mendapatkan perspektif baru terhadap dirinya sendiri.
Misalnya, daripada meminta coachee menyebutkan semua nilai yang coachee miliki, Anda dapat memberinya berbagai pilihan nilai dan mengajaknya memilih mana yang paling penting baginya. Dari pilihan tersebut, Anda kemudian dapat mengeksplorasi alasan di baliknya.
Hal yang sama dapat dilakukan ketika mengeksplorasi keterampilan. Coachee dapat melihat kembali keterampilan yang sudah coachee miliki, keterampilan yang ingin coachee gunakan, maupun kemampuan yang ingin coachee kembangkan dalam perjalanan kariernya.
Proses visual ini dapat membuat percakapan yang sebelumnya terasa abstrak menjadi lebih konkret. Anda dan coachee memiliki sesuatu yang dapat dilihat bersama, dibicarakan, dan dihubungkan.
Membantu Anda Membuka Percakapan Karier yang Lebih Bermakna
Pendekatan inilah yang menjadi dasar dari My Career Compass, sebuah visual coaching tool yang dapat membantu Anda memfasilitasi eksplorasi mengenai arah dan perjalanan karier coachee.
My Career Compass terdiri dari tiga elemen utama: Values, Skills, dan Career Questions.
Melalui Values, Anda dapat mengajak coachee mengeksplorasi hal-hal yang penting bagi coachee dalam bekerja dan menjalani perjalanan karier.
Melalui Skills, coachee dapat melihat kembali kemampuan yang coachee miliki, keterampilan yang ingin coachee gunakan, maupun area yang ingin coachee kembangkan.
Sementara melalui Career Questions, Anda dapat membuka percakapan yang lebih reflektif mengenai pengalaman, kebutuhan, aspirasi, kontribusi, makna, dan arah karier yang ingin coachee bangun.
Ketiga elemen tersebut dapat digunakan sebagai pintu masuk yang fleksibel dalam sesi coaching. Anda tidak perlu memaksakan coachee untuk langsung menemukan jawaban. Sebaliknya, Anda dapat memberikan ruang bagi coachee untuk memilih, menghubungkan, merefleksikan, dan menemukan insight yang relevan dengan perjalanan coachee sendiri.
Karena pada akhirnya, career coaching bukan tentang Anda sebagai coach yang memberikan peta kepada coachee tentang ke mana coachee harus pergi.
Peran Anda adalah membantu coachee mengenali kompas yang sudah ada di dalam dirinya.
Apa yang penting bagi coachee. Apa yang coachee miliki. Apa yang ingin coachee kembangkan. Apa yang ingin coachee berikan. Dan seperti apa arah yang ingin coachee pilih.
Sebab sebelum membantu coachee menemukan where to go, mungkin kita perlu membantu coachee memahami what matters.
Dan ketika coachee mulai memahami apa yang penting bagi dirinya, pilihan karier yang sebelumnya terasa membingungkan dapat perlahan menjadi lebih jelas.
My Career Compass hadir untuk membantu Anda membuka ruang eksplorasi tersebut—agar career coaching tidak hanya menjadi percakapan tentang pekerjaan, tetapi menjadi perjalanan untuk menemukan arah, makna, dan kemungkinan dalam karier.

