
“What is your passion?”
Pertanyaan yang hadir dari cerita salah satu peserta, seorang praktisi pendidikan, yang sedang mendampingi proses konseling siswa. Seperti banyak sesi lainnya, pertanyaan ini jadi pintu masuk percakapan.
Beliau menceritakan respon yang muncul dari siswanya beragam dan salah satunya, “game.”
Bukan karena jawabannya salah, beliau justru terdiam karena bingung harus melangkah ke mana. Apakah game hanya hobi? Apakah cukup kuat untuk dijadikan dasar memilih jurusan? Atau seharusnya diarahkan ke sesuatu yang terdengar lebih “serius?
Cerita ini terasa dekat. Karena mungkin kita semua pernah ada di posisi yang sama, sebagai konselor, coach, pendidik, orang tua, atau bahkan sebagai siswa yang pernah menjawab jujur.
Ketika Passion Terasa Terlalu Sederhana
Bagi banyak coachee, terutama yang masih sekolah, passion sering dimaknai sebagai sesuatu yang menyenangkan.
Game. Menggambar. Menulis. Menonton film.
Masalahnya bukan pada jawabannya, tapi pada cara kita memaknainya. Ketika passion dipersempit menjadi “apa yang kamu suka”, coachee jadi kesulitan melihat hubungannya dengan masa depan. Dan coach pun kebingungan harus mengarahkannya ke mana.
Mungkin, yang perlu kita ubah bukan jawabannya, tapi titik awal pertanyaannya.
Purpose: Menggeser Percakapan: Bukan “Apa Passion-mu?”, tapi “Hidup Seperti Apa yang Kamu Inginkan?”

Sumber: Sesi My Career Compass
Dalam My Career Compass, eksplorasi dimulai dari purpose.
Pertanyaannya sederhana, tapi dalam:
How do you want to live your life?
Pelan-pelan, coachee diajak keluar dari label “suka” dan mulai menyentuh hal yang lebih dalam: apa yang penting, apa yang ingin dijaga, dan hidup seperti apa yang terasa benar bagi dirinya.
Di sesi coaching, coach bisa mengajak coachee melihat kartu Values My Career Compass, lalu meminta mereka memilih tiga nilai yang paling mewakili diri mereka saat ini.
Sering kali, dari sini muncul momen kecil yang mengubah arah percakapan. “Oh… ternyata aku peduli sama growth, learning, dan contribution.”
Poin ini kita bisa melihat bagaimana ia ingin menjalani hidupnya.
Resources: Melihat Apa yang Sudah Ada, Bukan Apa yang Kurang

Sumber: Kartu Skill My Career Compass
Setelah arah hidup mulai terlihat, percakapan bisa dilanjutkan dengan satu pertanyaan penting:
“What do I have?”
Banyak coachee merasa belum siap memilih jurusan karena merasa belum punya bekal apa-apa. Padahal, sering kali mereka hanya belum pernah diajak melihat diri mereka secara utuh.
Di tahap Resources, coachee diajak mengenali:
“Apa yang sudah mereka miliki di dalam diri, entah skills, pengalaman, kekuatan personal?”
Coach bisa membuka percakapan dengan pertanyaan ringan:
- Hal apa yang paling sering diminta orang lain dari saya?
- Dalam lingkungan seperti apa saya paling nyaman belajar dan berkembang?
Di titik ini, jawabannya bukan lagi dilihat sebagai hobi, tapi bisa menjadi pintu masuk untuk melihat cara berpikir, strategi, ketekunan, atau kemampuan mewujudkan tujuan.
Expand: Bertumbuh, Bukan Langsung Menentukan
Setelah melihat apa yang dimiliki, wajar jika coachee mulai bertanya: lalu, apa yang perlu aku kembangkan?
Fase Expand hadir bukan untuk menekan, tapi untuk menumbuhkan.
What do I need?
Bukan tentang kekurangan, melainkan tentang proses belajar dan bertumbuh.
Coach bisa mengajak refleksi lewat pertanyaan:
- Apa yang ingin saya capai dari proses coaching ini?
- Apa yang bisa membantu saya tetap tenang di masa perubahan?
- Dalam beberapa tahun terakhir, hal apa yang paling membantu saya berkembang?
Pelan-pelan, jurusan kuliah tidak lagi terasa seperti keputusan besar yang menakutkan, tapi sebagai salah satu langkah dalam perjalanan panjang.
Action: Dari Percakapan ke Langkah Kecil

Sumber: Kartu Pertanyaan My Career Compass
Pada akhirnya, refleksi perlu diturunkan menjadi kontribusi.
Di tahap Action, pertanyaannya bukan lagi “apa yang paling ideal”, tapi:
langkah kecil apa yang bisa diambil sekarang?
Jika coachee masih ragu, coach bisa bertanya:
- Kapan saya mau mulai melangkah?
- Apa satu hal kecil yang bisa saya lakukan minggu ini?
- Kontribusi apa yang ingin saya berikan, sekecil apa pun?
Bukan rencana sempurna yang dicari.Cukup satu langkah yang bisa segera diimplementasikan.
Menutup Sesi dengan Kompas

Sumber: Sesi My Career Compass
Menentukan jurusan kuliah bukan tentang menemukan satu jawaban yang paling benar. Lebih dari itu, ini tentang membantu coachee mengenali dirinya, memahami arah hidupnya, dan percaya bahwa ia mampu bertumbuh.
Ketika coaching dimulai dari cerita, bukan label; dari refleksi, bukan tuntutan, coachee tidak hanya memilih jurusan. Mereka sedang menyusun kompas hidupnya sendiri.
Dan sebagai coach, mungkin disitulah peran kita yang paling bermakna.

