Mengapa Coachee Anda Merasa Salah Jurusan Karier, Padahal Sudah Memiliki Pekerjaan?

Ditulis oleh Ellen Tesalonika
Diupdate 15/07/2026 - Dibaca menit

Dalam sesi career coaching, mungkin Anda pernah mendengar coachee mengatakan,

“Saya tidak benar-benar membenci pekerjaan saya. Tapi entah kenapa, rasanya seperti saya tidak lagi berada di jalur yang tepat.”

Pernyataan seperti ini cukup umum ditemui. Menariknya, coachee yang mengalaminya bukan hanya mereka yang baru lulus kuliah atau sedang mencari pekerjaan pertama. Banyak profesional yang telah bekerja selama bertahun-tahun, memiliki karier yang stabil, bahkan berhasil mencapai posisi tertentu, tetap mempertanyakan arah kariernya.

Sekilas, kondisi ini sering diartikan sebagai tanda bahwa seseorang telah memilih pekerjaan yang salah. Padahal, dalam banyak situasi, akar permasalahannya tidak sesederhana itu.

Sebagai career coach, penting untuk tidak terburu-buru mengarahkan coachee pada solusi seperti berpindah pekerjaan atau mencari profesi baru. Sebelum membahas langkah berikutnya, ada baiknya memahami terlebih dahulu apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik pertanyaan, “Apakah saya salah jurusan karier?”

Berikut beberapa hal yang sering menjadi akar dari kebingungan tersebut.

1. Coachee Anda Sudah Bertumbuh, tetapi Masih Menggunakan Kompas Karier yang Lama

Sumber: Canva

Setiap keputusan karier lahir dari konteks tertentu. Saat memilih jurusan kuliah, pekerjaan pertama, atau bidang profesi, seseorang mengambil keputusan berdasarkan pengalaman, informasi, kebutuhan, dan pemahaman diri yang dimiliki pada saat itu.

Namun, manusia terus berkembang.

Seiring bertambahnya pengalaman, seseorang mulai mengenali dirinya dengan cara yang berbeda. Nilai hidup dapat berubah, prioritas bergeser, dan cara memaknai kesuksesan pun berkembang. Hal-hal yang dahulu terasa penting belum tentu masih menjadi prioritas hari ini.

Dalam praktik coaching, kondisi ini cukup sering muncul. Coachee datang dengan keyakinan bahwa mereka telah mengambil keputusan yang keliru di masa lalu. Padahal, setelah dieksplorasi lebih dalam, keputusan tersebut sebenarnya relevan dengan situasi yang mereka hadapi saat itu.

Yang berubah bukan kualitas keputusannya, melainkan diri mereka sendiri.

Di sinilah peran career coach menjadi penting. Alih-alih berfokus pada penyesalan terhadap masa lalu, Anda dapat membantu coachee memahami apakah kompas yang mereka gunakan dalam mengambil keputusan memang sudah perlu diperbarui.

2. Coachee Mengira Masalahnya Ada pada Pekerjaan, Padahal Belum Tentu

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Tidak sedikit coachee yang datang dengan satu kesimpulan.

“Saya rasa saya harus resign.”

Padahal, ketika percakapan mulai dieksplorasi lebih dalam, masalah yang mereka alami belum tentu berasal dari pekerjaannya.

Bisa jadi mereka kehilangan tantangan. Bisa jadi kesempatan belajar mulai berkurang. Atau mungkin pekerjaan tersebut tidak lagi memberi ruang untuk menggunakan kekuatan terbaik yang mereka miliki.

Beberapa coachee bahkan menggambarkan kondisinya dengan kalimat seperti, “Saya masih bisa mengerjakan semua tugas dengan baik, tetapi saya tidak lagi merasa bersemangat.”

Situasi seperti ini sering kali disalahartikan sebagai career mismatch. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah kebutuhan perkembangan diri mereka sudah berubah.

Sebagai career coach, membedakan antara rasa jenuh, kelelahan, dan ketidakselarasan karier menjadi bagian penting dalam proses coaching. Ketika akar permasalahan dipahami dengan lebih jelas, solusi yang muncul pun akan lebih tepat sasaran.

3. Coachee Terlalu Lama Mengikuti Definisi Sukses dari Luar

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Keputusan karier tidak pernah diambil dalam ruang yang kosong.

Banyak coachee dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti peluang kerja, penghasilan, ekspektasi keluarga, tren industri, maupun gambaran tentang profesi yang dianggap sukses oleh lingkungan.

Semua pertimbangan tersebut tentu valid. Namun, tantangan muncul ketika keputusan-keputusan tersebut tidak pernah diimbangi dengan refleksi mengenai apa yang benar-benar penting bagi dirinya.

Dalam sesi coaching, kondisi ini sering terlihat ketika coachee mulai menyadari bahwa target yang selama ini mereka kejar sebenarnya lebih banyak dibentuk oleh ekspektasi dari luar daripada kesadaran dari dalam diri.

Mereka mungkin berhasil memperoleh promosi, jabatan, atau penghasilan yang lebih baik. Namun, tetap muncul pertanyaan, “Mengapa saya masih merasa ada yang kurang?”

Pertanyaan tersebut tidak selalu menunjukkan bahwa coachee kurang bersyukur. Bisa jadi, mereka sedang menyadari adanya jarak antara kehidupan yang sedang dijalani dengan kehidupan yang sebenarnya ingin mereka bangun.

Melalui pertanyaan coaching yang tepat, Anda dapat membantu coachee membedakan mana tujuan yang benar-benar berasal dari dirinya dan mana yang selama ini lebih dipengaruhi oleh standar orang lain.

4. Yang Dibutuhkan Coachee Bukan Selalu Jawaban, tetapi Kejelasan

Sumber: Canva

Ketika coachee mulai mempertanyakan arah kariernya, mereka sering datang dengan harapan mendapatkan jawaban yang pasti.

“Apakah saya harus pindah bidang?”

“Apakah saya sebaiknya mencari pekerjaan baru?”

Sebagai career coach, mungkin Anda menyadari bahwa pertanyaan tersebut sering kali belum menjadi pertanyaan yang paling penting.

Sebelum menentukan langkah berikutnya, coachee perlu memahami apa yang sebenarnya sedang berubah dalam dirinya.

Apakah mereka membutuhkan tantangan baru?

Apakah nilai yang mereka pegang sudah berubah?

Atau justru mereka masih dapat bertumbuh di tempat yang sama dengan pendekatan yang berbeda?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang membantu coachee memperoleh kejelasan. Ketika seseorang memahami nilai, kekuatan, dan arah yang ingin dibangun, keputusan yang diambil tidak lagi didasarkan pada rasa lelah sesaat, tetapi pada pemahaman yang lebih utuh tentang dirinya sendiri.

Membantu Coachee Menemukan Arah, Bukan Memberikan Arah

Sumber: My Career Compass

Salah satu peran terpenting seorang career coach bukanlah memberikan jawaban atas setiap kebingungan yang dibawa coachee. Peran tersebut adalah menciptakan ruang refleksi yang membantu coachee melihat dirinya dengan lebih jernih.

Karena pada akhirnya, pertanyaan “Apakah saya salah jurusan karier?” sering kali bukan benar-benar tentang pekerjaannya. Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana seseorang telah bertumbuh, apa yang berubah dalam dirinya, dan arah seperti apa yang kini ingin ia bangun.

Ketika proses refleksi dilakukan secara terstruktur, coachee tidak hanya memperoleh jawaban mengenai langkah berikutnya. Mereka juga memiliki pemahaman yang lebih kuat tentang alasan di balik setiap keputusan yang akan diambil.

My Career Compass dirancang untuk mendukung proses tersebut. Melalui eksplorasi terhadap nilai, kekuatan, dan potensi diri, alat ini membantu career coach memfasilitasi percakapan yang lebih mendalam sehingga coachee dapat membangun keputusan karier yang lahir dari kesadaran, bukan sekadar reaksi terhadap situasi yang sedang dihadapi.

Karena keputusan karier yang baik bukan hanya tentang memilih langkah berikutnya, tetapi juga memastikan bahwa langkah tersebut benar-benar selaras dengan diri yang terus berkembang.

Author


Kategori

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}

Stay in the loop and sign up for the Sinergia Coaching Centre newsletter:

Documentation

Social